21 Kecamatan di Klaten Endemis DBD

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten terdapat 56 desa di 21 kecamatan di Kabupaten Klaten yang menjadi wilayah endemis demam berdarah dengue (DBD). Selama bulan Januari hingga Agustus 2016, setidaknya telah terjadi 540 kasus DBD di Klaten, 17 kasus di antaranya meninggal dunia.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Dinkes Klaten Wahyuning Nugrahaeni mengatakan memasuki musim peralihan dari kemarau ke musim penghujan tahun ini perlu peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit DBD.

“Kasus DBD di Klaten rata-rata menyerang anak-anak dengan rentang usia 0 hingga 14 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga terkena karena meningkatnya perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Untuk itu perlu peningkatan kewaspadaan ketika menemui gejala DBD,” jelas Wahyuning, Jumat (30/09).

Wahyuning menjelaskan, Gejala DBD di antaranya, tubuh mendadak demam tinggi disertai pegal-pegal dan lemas. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri sedini mungkin jika menemui gejala tersebut. Pasalnya, rata-rata kasus meninggal DBD disebabkan terlambatnya penanganan. Itu akibat pasien yang tak terlalu memperhatikan gejala yang muncul.

“Banyak pasien yang tidak menyebutkan secara detail gejala yang dialami kepada dokter. Seperti perhitungan waktu demam. Padahal, informasi itu sangat dibutuhkan untuk menghitung masa inkubasi virus DBD. Akibatnya, beberapa kali didapati DBD sudah akut sehingga penanganan tidak optimal,” tutur Wahyuning.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Herry Martanto mengatakan, pemberantasan DBD secara keseluruhan tidak mungkin dilakukan. Sebab, penyakit tesebut tumbuh di dalam nyamuk aedes aegypti. Meski demikian, masih bisa dilakukan pengendalian dan pencegahan.

“Ini berkaitan dengan siklus mahkluk hidup yang erat dengan lingkungan, maka tidak bisa diubah. Yang perlu diubah adalah perilaku masyarakat dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Caranya 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur,” jelas Herry.

Sumber: Provinsi Jawa Tengah

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *