Klaten Darurat PKI Akibat Warga Sudah Terpengaruh Oleh Pemikiran PKI by @SurYosodipuro

Beberapa waktu yang lalu, gabungan elemen Islam di Klaten Jawa Tengah (Jateng) yang bekerjasama dengan sejumlah takmir masjid di Klaten mengadakan tabligh akbar dengan mengangkat tema mewaspadai kebangkitan PKI dan faham Komunis di Indonesia.

Tujuan dari pelaksanaan tabligh akbar yang digelar untuk membentengi masyarakat dan umat Islam dari faham Komunis yang sangat berbahaya bagi NKRI.

Namun kini, Klaten digemparkan dengan adanya pertemuan Sekber 65 (Sekretaris Bersama Korban 65) Klaten yang digelar pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2015 bertempat di rumah Bp Wagiman Wagiyanto alias Dongkol di Jelok Gumul RT 2/RW 6, Ds. Kahuman, Kec. Polanharjo, Klaten diikuti kurang lebih 150 orang.

Anehnya, pertemuan tersebut tidak dilarang dan dibubarkan oleh aparat keamanan terkait. Padahal sudah jelas bahwa PKI dan Komunis merupakan faham dan organisasi yang terlarang sesuai dengan TAP MPRS No XXV Tahun 1966 dan KUHP Pasal 107.

Selain itu, di dunia maya Facebook (FB) juga beredar pola pikir dan pemikiran PKI yang sangat berbahaya dan menjangkiti serta mempengaruhi warga Klaten.

Salah satunya adalah akun FB Zee Noor dan Ndoro Conk. Berdasarkan penelusuran dan investigasi yang dilakukan oleh Manjanik baik di dunia maya maupun di dunia nyata, akun FB Ndoro Conk merupakan alumni UMS Solo. Sedangkan Zee Noor mempunyai nama asli Hasan Rosadi dengan alamat Desa Cucukan Kecamatan Prambanan Klaten, dan alumni SMA Muhammadiyah 1 Klaten.

Dengan vulgar, akun FB Zee Noor memakai logo dan lambang PKI, yakni palu arit sebagai gambar profilnya. Sontak saja hal itu mendapatkan kritikan dan protes dari Facebookers, salah satunya adalah akun FB Ihsanudin Kokam dan Ki Suryo Negoro.

Berdasarkan investigasi Manjanik, akun FB Ihsanudin Kokam adalah Komandan Kokam Muhammadiyah Jatinom Klaten yang bernama asli Ihsanudin.

Sedangkan akun FB Ki Suryo Negoro adalah akun FB milik Muhammad Ismail yang merupakan Komandan Kokam Muhammadiyah Jateng.

Salah satu pola pikir dan pemikiran Zee Noor yang berbahaya dan sudah terpengaruh pemikiran PKI adalah seperti ini, “Kalau panjenengan, palu arit adalah pki, kasihan para petani dan kaum pedesaan yang harus menyimpan palu dan arit dalam satu ruang”.

Dan pki yang ada dalam sejarah di Indonesia (itu versi siapa mas)” tulis Zee Noor saat mengomentari nasehat Ihsanudin Kokam: logo palu arit logo PKI.

“Karena saya hidup bukan berdasarkan simbol, dan Allah Tuhan saya tidak menilai makhluqnya dari simbol, tapi dari perbuatan seseorang atau makhluq itu, justru saya lebih takut pada insan yang mudah menuduh dan menjatuhkan vonis hanya karena sampul,” tulis Zee Noor yang mengindikasikan kembali pola pikir PKI.

Tulisan Zee Noor itupun kembali ditanggapi oleh Ihsanudin Kokam dengan menasihati Zee Noor dan berkata, “Sudah jelas anda berarti sepaham dengan komunis.. anda harus sadar para ulama dan umat Islam banyak yang dibunuh PKI dan ideologi PKI sesat dan bangsat”.

Conk melontarkan komentar, Ana apa tho den (den adalah nama lain dari akun FB Zee Noor yang berarti Raden Nur-red) sebatas lambang itu jadi masalah to. Mereka-mereka kae lho do nganggo lambang pangkat bertuliskan lambang-lambang agama atau negara tapi kelakuane koyok bajingan kabeh. Do kon goleki aku den yen arep nantang koe sopo ae tooo”.

Menurut penelusuran Manjanik sampai hari Ahad (13/9/2015) malam, logo dan lambang PKI yang digunakan Zee Noor sebagai foto profil sudah dihapus dan diganti dengan gambar hitam pekat sejak tanggal 10 September 2015, atau sehari setelah perbincangan antara Ihsanudin Kokam dengan Zee Noor dan kawan-kawannya yang juga mempunyai pola pikir PKI ramai di dunia maya, khususnya di FB.

Kita kembali Pada hari Sabtu siang tanggal 22 Agustus 2015, Sekber 65 (Sekretaris Bersama Korban 65) Klaten dalam pertemuan tersebut, hadir pula tokoh-tokoh sentral Sekber 65 PKI yang berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Klaten.

Selain itu, Ketua Sekber 65 PKI Solo Raya, yakni Winarso dan Sekretaris Sekber 65 Solo Raya, Didik Diah turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Sekber 65 PKI Klaten, Yohanes Paulus Mardjino mengatakan bahwa Sekber 65 PKI mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar menerbitkan Keppres jika sesungguhnya orang-orang PKI saat terjadinya tragedi pada tahun 1965 adalah korban pembantaian TNI.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga terungkap jika program Kartu Jaminan Kesehatan yang kemudian diberi nama Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan menjadi andalan Jokowi untuk memikat hati rakyat, sebetulnya adalah program yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang Sekber 65 PKI.

Namun untuk menutupi itu semua agar Jokowi tidak dinilai pro PKI, atau termasuk bagian dari PKI, maka program Kartu Jaminan Kesehatan KIS yang dipromosikan Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 tersebut dalam pelaksanaannya juga dibagikan kepada rakyat, meskipun hingga saat ini tidak merata.

Maka tak heran pula jika anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, yakni Rieke Diah Pitaloka yang diindikasikan sebagai kader PKI juga ikut mempromosikan dan memperjuangkan Kartu Jaminan Kesehatan agar dapat segera digoalkan.

“Kartu Jaminan Kesehatan adapun Kartu tersebut adalah merupakan usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk Korban 65, kartu tersebut dipergunakan oleh bukan saja korban 65 melainkan seluruh keluarga dari korban 65 akan memperoleh kartu tersebut. KJS tersebut yang mendapatkan bukan saja anggota Sekber 65 melainkan semua Korban 65 akan memperoleh Kartu Jaminan Kesehatan tersebut,” kata Yohanes dalam sambutannya seperti info yang diterima oleh Manjanik beberapa waktu lalu.

Sumber: Chirpstory

(Visited 2.771 times, 17 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *