Lebih Dekat dengan Dio Prasetyanto, Atlet Panahan Disabilitas Asal Klaten

Mengalami kelumpuhan sejak Kelas V ternyata tak membuat Robertus Dio Prasetyanto, 17, patah semangat. Terbukti Dio mampu menyumbangkan 2 emas dan 1 perak dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2016 di Jawa Barat. Berikut perjuangan Dio.

Terik matahari tak menghentikan langkah Dio untuk terus berlatih memanah di lapangan Panahan Krido Busoro, Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Klaten. Mengingat dalam waktu dekat dirinya akan mengikuti turnamen terbuka panahan di Kabupaten Kulon Progo. Lawan yang dihadapi adalah para atlet profesional yang memiliki kondisi tubuh lebih baik darinya.

Ketertarikan Dio-sapaan Robertus Dio Prasetyanto, pada olahraga panahan berawal saat dirinya memutuskan keluar dari sekolah khusus disabilitas di Jogja pada 2015 lalu. Dirinya merasa bosan dengan kegiatan yang dilakukannya di sekolah sehingga membuat dirinya kabur. Bahkan nasibnya sempat terkatung-katung.

Hingga akhirnya dia memutuskan bekerja pada sebuah home industry yang memproduksi sarung tinju di Jogja. Di sela-sela pekerjaan itulah Dio diajak temannya mengenal lebih dekat dengan olahraga panahan untuk mengisi waktu luangnya. Lambat laun Dio justru jatuh cinta pada olahraga yang membutuhkan konsentrasi penuh tersebut.

“Awalnya hanya seminggu dua kali membolos kerja, hingga akhirnya saya tak melanjutkan pekerjaan itu. Lebih baik latihan memanah, karena waktu itu busurnya juga dipinjamkan oleh teman. Tapi saya juga berusaha untuk membeli alat pembidiknya dari gaji yang saya dapat,” kenang Dio saat kali pertama mengenal olahraga panahan.

Saat awal berlatih dirinya merasa kesulitan untuk memegang busur yang dirasa berat hingga mencapai 2 kilogram. Terlebih dibutuhkan kekuatan tangan yang cukup hingga membuatnya tak goyah diterpa angin. Karena itu untuk mengatasinya dirinya senantiasa melatih kekuatan tangan dengan mengangkat barbel.

Latihan yang dilakukan remaja warga Desa Senden, Kecamatan Ngawen ini bisa dibilang melebihi para atlet panahan pada umumnya. Karena setiap harinya berlatih dari pukul 08.00-15.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk terus mengasah kemampuannya jelang mengikuti seleksi Peparnas 2016 di Sragen. Hingga akhirnya lolos mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional.

Butuh waktu sekitar lima bulan untuk berlatih-mulai dari mengenal busur hingga mengikuti traning center menghadapi Peparnas 2016 di Jawa Barat saat itu. Menariknya, meski belum genap satu tahun tapi dirinya mampu menyumbangkan medali 2 emas dan 1 perak pada kelas yang diikutinya untuk Jawa Tengah.

“Saya tak menyangka dengan keterbatasan yang saya miliki bisa mengharumkan nama Klaten dan Jawa Tengah di tingkat nasional. Padahal baru berlatih lima bulan tapi hasilnya seperti ini. Kemenangan ini membuat saya terus berlatih agar bisa menembus tingkat yang lebih tinggi lagi di kawasan Asia Tenggara,” jelas pria kelahiran 2 Agustus 1999 ini.

Sumber: Jawa Pos

(Visited 2 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *