Menelusuri Kampung Halaman Abu Walid, Algojo ISIS, di Klaten

Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, menjadi tempat kelahiran salah seorang algojo ISIS bernama Abu Walid alias M. Saifudin. Desa itu layaknya seperti kampung yang berada di Pulau Jawa lainnya.

Sawah terbentang luas dan mayoritas penduduknya petani. Desa yang luasnya 155 hektare dengan jumlah kepala keluarga (KK) mencapai 1.117 tampak sepi ketika kumparan tiba untuk bertemu Sa’adah, ibu dari Saifudin, Selasa (12/2), siang.

Menemui Sa’adah merupakan hal yang sulit. Sejumlah warga yang sebelumnya ditemui kumparan menyatakan, perempuan yang diperkirakan usianya sudah 80 tahun itu hanya mau bertemu orang yang sudah dikenalinya.

Beberapa warga emoh memberi petunjuk tentang sosok Sa’adah. Tapi, sulitnya menemui ibu Saifudin itu tak menyurutkan kumparan untuk mencari tahu keberadaan Sa’adah.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sejumlah warga usai menunaikan salat Dhuhur di Masjid Jami.

Masjid itu ternyata letaknya di depan rumah Sa’adah. Rumah Sa’adah terlihat sederhana.

Catnya berwarna putih. Sa’adah kebetulan sedang berada di depan rumahnya itu.

Sembari menyapa, kumparan langsung menanyakan kepada Sa’adah soal kematian anaknya di Suriah. Sa’adah tidak fasih berbahasa Indonesia.

Saat berbincang dengan kumparan, dia sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa. “Inggih kena cuilan kaca (iya terkena serpihan kaca). Pun takdire ngoten (sudah takdirnya seperti itu),” jawab Sa’adah saat ditanya perihal kematian Saifudin.

Saifudin merupakan putra ke-8 Sa’adah. Saifudin lahir di Klaten bersama saudara kembarnya Nurudin pada 11 Oktober 1978.

Keduanya menempuh pendidikan bersama di Pondok Pesantren Ngruki, Solo. Keduanya kemudian memutuskan turun sebagai “pejuang” dalam konflik Ambon pada tahun 2011.

Ketika terlibat di konflik Ambon itu, Nurudin tewas. Tewasnya Nurudin membuat Saifudin semakin terpacu untuk menjadi “pejuang” dengan caranya sendiri.

Sa’adah tak tahu persis kapan Saifudin bertolak ke Suriah. Yang dia ingat hanya pertemuannya terakhir kali dengan anaknya itu sekitar setahun lalu.

Menurut dia, Saifudin saat itu balik ke Klaten untuk mengurus pernikahan. Bahkan Sa’adah tak tahu siapa calon menantunya itu.

Sa’adah mengatakan setelah menikah, Saifudin langsung berangkat ke Suriah membawa istrinya. Sesampainya di Suriah, kata Sa’adah, Saifudin langsung menghubunginya.

Pada perbincangan itu, Sa’adah mengaku diajak Saifudin ke Suriah. “Nang kene penak bu neng negara Islam. Hukum Islam ditegakke salah tangan dipotong tangan, salah sikil potong sikil. (Di sini enak bu di negara Islam. Hukum Islam ditegakkan, salah tangan dipotong tangan, salah kaki dipotong kali),” kata Sa’adah mengulangi ajakan anaknya.

Jadi Pendekar

Sejak dari Ngruki kemudian pindah Jakarta, Saifudin kerap keluar kota bahkan luar negeri. Sa’adah mengaku tidak tahu persis putra bungsunya ini ke mana saja.

Yang jelas, kata dia, ada pernyataan Saifudin yang sangat diingatnya. Menurut Sa’adah, Saifudin ingin seperti leluhurnya, Imam Rozi.

Imam Rozi, adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Ageng Kenongo. Saat mencapai usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro menentang penjajah Belanda.

Mbah sik mriki iki kan mbah Imam Rozi niku pendekar. Mbah sik putri niku pendekar, Eyang Sumirah sepupu Pangeran Diponegoro. Dipundut garwo mbah Imam Rozi niku kancane Pangeran Diponegoro. (Mbah di sini kan mbah Imam Rozi itu pendekar. Istrinya Eyang Sumurah merupakan sepupu Pangeran Diponegoro. Dipersunting mbah Imam Rozi yang merupakan teman Pangeran Diponegoro),” kata dia. “Buk kulo niku putune Mbah Imam Rozi. Mbah Imam Rozi niku pendekar. Ya wis mugi slamet kulo ngeten. (Bu saya ini cucunya Mbah Imam Rozi. Mbah Imam Rozi itu pendekar. Ya sudah kata saya seperti itu),” kata Sa’adah mengulangi kalimat anaknya.

Soal anaknya yang berganti nama menjadi Abu Walid, Sa’adah mengaku tak tahu. Selama ini, kata dia, rekan-rekannya memanggil Saifudin dengan panggilan Fudin.

Sa’adah mengaku tidak kecewa dan kesal dengan keputusan anaknya hijrah ke Suriah menjadi algojo ISIS. Dia hanya berharap anaknya khusnul khotimah dalam jalan jihad.

Memugo khusnul khotimah diparingi nggon sing mulya (Semoga khusnul khotimah diberikan tempat yang mulia di sisi-Nya). Bisa syafaat wong tuo, syafaat gusti Allah lantaran jihad niku. Anake teng medan perang (Memberi syafaat untuk orang tua, syafaat Allah, karena jihad di medan perang itu),” katanya. Perbincangan kumparan dengan Sa’adah terputus lantaran dia mengaku ingin menunaikan salat Zuhur.

Kata Pemerintah Desa

Sementara itu, Kepala Desa Tempursari, Budi Dyatmoko saat dijumpai kumparan mengaku tidak tahu soal keterlibatan Saifudin dengan ISIS. Yang ia tahu warganya tersebut sejak remaja sudah keluar dari desa dan bersekolah di Ponpes Ngruki.

Dia pun kaget ketika mendengar kabar tewasnya Saifudin. Bersama dengan Danramil, Kapolsek, dan Camat ia kemudian ke rumah Sa’adah.

Di situ didapati keputusan bahwa Saifudin tidak akan dimakamkan di Indonesia. “Saya mendengar dari berita (tewasnya Saifudin) surat kabar. Ternyata setelah kita datang ke rumahnya, Bu Sa’adah orangtua Saifudin itu membenarkan anaknya meninggal dunia di Suriah. Itu bu Sa’adah dapat kabar dari menantunya yang ada di Bandung. Namanya siapa saya nggak tahu,” kata Budi.

Pascatewasnya Saifudin, kata Budi, juga tidak ada acara-acara seperti ngaji-ngaji di rumah Sa’adah. Terakhir kali Budi bertemu Saifuddin sekitar tahun 2015 atau 2016.

Ketika itu Saifudin hendak mengurus KTP. “Dulu waktu tahun berapa pernah memperbarui KTP dari biasa ke E KTP sekitar tahun 2015 atau 2016 itu. Itu juga katanya mau menikah dapat orang mana saya juga kurang tahu. Di luar negeri itu. Setelah itu nggak ada kabar. Jarang bahkan nggak pernah ke kantor desa, seperlunya saja,” tuturnya.

Sumber: Kumparan

(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.