Polisi Berani Nangkap Sulis Pimpinan Preman Bajak Laut? Ini Jawaban Kapolres Klaten

Polres Klaten pada Selasa (9/2/2016) pagi mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat dan ormas Islam di Mapolres Klaten guna membahas merebaknya dan bahaya minuman keras (miras) yang akhir-akhir ini menjadi persoalan serius di Kota Klaten, Jawa Tengah (Jateng).

Pertemuan yang digelar dari pukul 09.30 WIB hingga kurang lebih pukul 13.00 WIB itu dihadiri antara lain oleh Ketua Umum (Ketum) Dai Kamtibmas Polres Klaten Syamsuddin Asyrofi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Klaten Hartoyo dan para pimpinan ormas dan laskar Islam di Klaten.

Dalam kesempatan tersebut juga dibahas isu yang saat ini sedang hangat di Kota Klaten, yakni pengeroyokan ratusan preman Bajak Laut pimpinan Sulistyo terhadap anggota laskar Islam dari MMI dan Barisan Muda Klaten (BMK) pada Sabtu (6/2/2016) malam kemarin di kawasan Rusunawa, Kelurahan Bareng Lor, Kecamatan Klaten Utara, Klaten.

Ketum Dai Kamtibmas Polres Klaten dan Ketua MUI Klaten sepakat bahwa miras merupakan bahaya bagi setiap orang dan sangat penting untuk diselesaikan secepat mungkin. “Sebab miras ini adalah sumber dari segala kejahatan,” kata Syamsuddin Asyrofi.

Koordinator Laskar Islam Klaten (LAKIK), ustadz Sugiyanto dalam pertemuan itu juga menyatakan bahwa kasus pengeroyokan dan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Sulis dan anggotanya terhadap anggota laskar Islam dan Ketua MMI Klaten, ustadz Boni Azwar harus ditindak dengan cepat agar konfliknya tidak meluas.

Sementara itu, ada satu pertanyaan yang menarik dan cukup sederhana yang dilontarkan oleh mantan Komandan KOKAM Muhammadiyah Klaten, Muh Ismail kepada Kapolres Klaten, AKBP Faizal.

“Apakah bapak Kapolres berani menangkap Sulis? Kalau berani, mari kita segera merepat ke Rusunawa untuk menangkap para preman Bajak Laut dan juga Sulis,” ujar pria asli Klaten yang kini menjabat sebagai Komandan KOKAM Muhammadiyah Wilayah Jateng itu.

Namun ternyata, pertanyaan simpel dan sederhana yang tidak lebih dari satu menit itu dijawab dengan mbulet oleh AKBP Faizal. Mantan Kapolres Kebumen itu bukannya menjawab “berani atau tidak berani”, tapi dirinya justru menjelaskan definisi preman dan aksi premanisme. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa dalam menangani premanisme sudah ada mekanisme tersendiri.

Tentu saja jawaban tersebut tidak membuat puas para pimpinan ormas Islam dan laskar Islam. Sebab yang kini ditunggu umat Islam dan masyarakat pada umumnya adalah sikap tegas aparat dalam memberantas premanisme dan penyakit masyarakat berupa miras yang merupakan sumber kejahatan.

Sedangkan ustadz Boni Azwar yang juga hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan di hadapan para wartawan bahwa dirinya memang menjadi korban pengeroyokan dan percobaan pembunuhan dari para preman Bajak Laut. Bahkan di situ, kata ustadz Boni, ada bambu runcing, senjata tajam (sajam), kayu balok, batu yang sepertinya sudah dipersiapkan oleh para preman Bajak Laut pimpinan Sulis.

Sumber: Rame-rame Belajar

(Visited 895 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *