Sawah dan Permukiman di Juwiring Terendam Air

Hujan yang mengguyur wilayah Klaten pada Selasa (27/9/2016) malam membuat puluhan hektare (ha) lahan pertanian di wilayah Kecamatan Juwiring terendam air. Luapan air sungai juga sempat menggenangi sejumlah permukiman.

Kades Bolopleret, Kecamatan Juwiring, Catur Joko Nugroho, mengatakan hujan mengguyur pada Selasa sekitar pukul 21.00 WIB hingga Rabu (28/9/2016) dini hari. Akibatnya, Sungai Mogoktawen yang ada di desa setempat meluap.

“Mulai masuk ke permukiman itu sekitar pukul 00.00 WIB. Yang terendam sekitar 25 rumah. Kalau ketinggian air 25-30 sentimeter. Ada beberapa rumah yang sempat kemasukan luapan air sungai. Sekitar lima keluarga sempat mengungsi. Air mulai surut sekitar pukul 04.00 WIB,” jelas Catur saat ditemui di balai desa setempat, Rabu.

Catur menjelaskan selain permukiman, air juga menggenangi sekitar 20 hektare lahan pertanian dengan umur padi dua hingga tiga bulan. “Untuk padi terutama yang merkatak [sudah keluar bulir padi] hasilnya kurang maksimal. Selain padi, ada sekitar dua patok [4.500 meter persegi] ditanami melon dipastikan gagal panen,” katanya.

Sebagai antisipasi sungai tak lagi meluap, Catur mengatakan sudah mengajukan peminjaman alat berat ke Kodim Klaten. Hal itu dimaksudkan untuk menormalisasi sungai yang ada di desa setempat.
“Sudah kami ajukan untuk peminjaman alat tersebut. Rencananya sedimentasi di Sungai Mogoktawen kami keruk sehingga aliran air tetap lancar tak sampai meluap ke permukiman dan sawah,” ungkapnya.
Ia juga berharap ada perbaikan drainase di sepanjang jalan kabupaten yang berada di antara Desa Bolopleret dan Tanjung. Ketika hujan mengguyur, ruas jalan tersebut kerap tergenang air akibat luapan saluran drainase.

Sementara itu, di Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, lahan pertanian seluas 20 ha juga terendam air setelah diguyur hujan pada Selasa malam. Usia tanaman padi yang terendam antara 20-60 hari.

Camat Juwiring, Triyono, mengatakan terendamnya permukiman serta sawah akibat hujan yang mengguyur cukup lama di wilayah Juwiring. Ia menjelaskan beberapa daerah di wilayah Juwiring selama ini menjadi langganan luapan air. “Untuk lahan pertanian melihat dulu kondisi cuaca. Kalau tidak ada hujan dengan intensitas tinggi, air di sawah biasanya segera surut dan padi tetap terselamatkan,” katanya.

Sumber: Solo Pos

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *