Tergerus Erosi Kali Dengkeng, Pekarangan Warga Bayat Hilang

Erosi Kali Dengkeng di wilayah Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, menggerus pekarangan warga. Tanah yang hilang akibat erosi mengakibatkan kerugian hingga Rp60 juta.

Salah satu warga, Fitri, 31, warga Dukuh Wiro RT 010/RW 004, Desa Wiro, mengatakan akibat erosi itu ia harus kehilangan tanah di sebagian pekarangannya seluas sekitar 300 meter persegi. Awalnya, rumahnya berada cukup jauh dari tepi sungai. Kini, rumahnya berada hampir di bibir sungai.

“Dulu tepi sungai ada di tengah-tengah kali ini,” kata Fitri, seraya menunjuk rumpun bambu di tengah sungai, saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (30/5/2017).

Ia was-was saat debit air sungai meningkat. Selain khawatir longsor meluas, ia juga takut banjir menggenangi rumahnya. “Kalau mau pindah, pindah ke mana wong tanah saya cuma punya di sini,” ujar Fitri.

Nilai kerugian alibat pekarangan yang hilang dengan perkiraan mencapai 300 meter persegi itu senilai Rp60 juta dengan menghitung harga tanah di kampung tersebut Rp200.000 per meter persegi. “Dulu tanah saya dibangun satu rumah lagi masih bisa. Sekarang enggak,” beber dia.

Erosi juga mengakibatkan sepetak jalan di Dukuh Mandungan, Desa Wiro, hilang terseret arus. Akibatnya, tiga keluarga yang menghuni tiga rumah terisolasi. Untuk akses, mereka memanfaatkan pekarangan milik tetangga.

“Kami berharap Pemkab bisa membikinkan jalan seperti semula sehingga warga kami tidak ada yang terisolasi,” ujar Tri Harjanto, warga RT 019/RW 007 Dukuh Mandungan, Desa Wiro, Bayat, Selasa.

Jalan yang hilang, lanjut Tri, memiliki lebar sekitar tiga meter dengan panjang 100 meter. Jika tak lekas diperbaiki, ia khawatir kerusakan akan meluas dan membahayakan perkampungan saat terjadi banjir.

“Lokasi ini berada di tempuran pertemuan antara Sungai Kuning dan Sungai Dengkeng. Kalau enggak segera ditangani kami khawatir kerusakan meluas,” kata Tri.

Terpisah, Operator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Arif Fuad Hidayah, mengatakan belum menerima laporan soal insiden tersebut. Peristiwa tergerusnya bibir sungai memang terjadi sejak lama sebab Sungai Dengkeng belum pernah dinormalisasi.

“Sungai menjadi kewenangan BBWSBS [Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo], Pemkab enggak boleh. Kalau sudah ada laporan dari desa, kami koordinasikan dengan semua pihak [untuk penanganannya],” tutur Arif, Senin (29/5/2017).

Sumber: Harian Jogja

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *