Ternyata, Suap untuk Bupati Klaten dari Uang Pinjaman

Kepala Seksi SMP Dinas Pendidikan Klaten Suramlan terpaksa mencari pinjaman uang sebagai suap yang diberikan kepada Bupati Sri Hartini atas jabatan tertentu yang dijanjikan kepadanya.

Hal tersebut terungkap dalam dakwaan jaksa pada sidang kasus dugaan suap promosi dan mutasi jabatan di Kabupaten Klaten dengan terdakwa Suramlan di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin.

Jaksa Penuntut Umum Dody Sukmono menjelaskan suap yang diberikan oleh pejabat untuk memperoleh suatu posisi tertentu kepada bupati tersebut disebut dengan uang syukuran. “Terdakwa didakwa telah memberikan suap kepada bupati sebesar Rp200 juta,” katanya dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Antonius Wididjanto tersebut.

Suap tersebut diberikan berkaitan dengan jabatan Kepala Bidang SMP yang dijanjikan kepada terdakwa. Menurut dia, Bupati Sri Hartini menentukan besaran uang syukuran untuk posisi kepala bagian sebesar Rp200 juta dan kepala seksi sebesar Rp30 juta.

Selain itu, jaksa juga mengungkap peran Kepala Bidang Pendidikan Dasar Pendidikan Kabupaten Klaten Bambang Teguh Satya dalam dugaan kasus suap tersebut. Ia menjelaskan Bambang menawarkan jabatan Kabid SMP kepada terdakwa dengan syarat menyediakan uang syukuran sebesar Rp200 juta. “Terdakwa kemudian menyampaikan jika dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu dan meminta bantuan untuk dicarikan pinjaman,” katanya seperti dikutip Kantor Berita Antara.

Bambang kemudian mencarikan pinjaman yang selanjutnya disetorkan kepada bupati dalam beberapa kesempatan.

Pemberian pertama, lanjut dia, sebesar Rp50 juta yang disebut sebagai uang muka. Kemudian melalui Bambang diserahkan lagi uang dengan total Rp150 juta sebagai pelunasan setelah nama terdakwa masuk dalam draf rencana pengukuhan dan pelantikan pejabat baru.

Atas perbuatannya, terdakwa didakwa telah melanggar pasal 5 atau 13 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Usai pembacaan dakwaan, penasehat hukum terdakwa, Yosep Parera langsung menyampaikan tanggapan. Dalam tanggapannya, Yosep menilai dakwaan jaksa kabur. “Terdakwa dijerat dengan pasal tentang suap dan gratifikasi,” katanya.

Sementara, lanjut dia, inisiatif suap justru berasal dari Bupati Klaten kepada Bambang Teguh Satya untuk mencari pejabat yang ingin naik jabatan. “Tindakan terdakwa tidak termasuk dalam perbuatan berkelanjutan,” kata Ketua Peradi Kota Semarang ini.

Seperti diketahui, Sri Hartini beserta tujuh orang di antaranya diamankan KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang berlangsung pada hari Jumat (30/12) di Klaten, Jawa Tengah. Mereka diamankan terkait kasus suap promosi jabatan di lingkungan Pemkab Klaten.

Sumber: Merdeka

(Visited 22 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.